Rabu, 04 November 2015

Wearable dan Nanoteknologi: Masa Depan Pelayanan Kesehatan


     Dilansir dari @wtvox, arus perkembangan teknologi kian hari kian melesat cepat. Big data, mobility, keamanan, dan cloud computing semakin bertransformasi seiring dengan berkembangnya pula bisnis dan masyarakat. Hampir seluruh sektor industri telah mengikuti perkembangan teknologi ini, termasuk pelayanan kesehatan.

     Kemampuan teknologi untuk berintegrasi dengan aspek-aspek dalam pelayanan kesehatan, membuka peluang baru bagi para dokter, peneliti, pasien, dan rumah sakit untuk terus berinovasi. Meskipun begitu, ranah kesehatan adalah ranah yang kritis yang sarat akan pengukuran dan kualitas, sehingga perkembangan teknologi pun harus dibarengi berbagai aspek-aspek yang dapat memberikan dampak yang positif yang dapat menyelamatkan jutaan nyawa di dunia.

     Ketika sejumlah besar data berdatangan layaknya banjir bandang (Big Data), maka hal ini menjadi keuntungan untuk para inovator dan profesional di bidang pelayanan kesehatan untuk menghadirkan berbagai improvement. Diagnosa yang lebih baik, prediksi yang lebih akurat, wearable applications dan nanoteknologi yang dapat merevolusikan pelayanan kesehatan, serta dapat membuat pasien maupun masyarakat untuk dapat memonitor kesehatan mereka sendiri.

Untuk selengkapnya, silahkan klik link dibawah ini

Tweet Source:

Wearables And Nanotech: The Future Of Healthcare https://t.co/9541Yh2Y9K #IoT #Wearables https://t.co/VNqvCIt2iJ

Unknown Web Developer

Yudha Eri Saputra is a pharmacist that have affinity to inspire health innovation through cross information sharing

Untuk Mencegah Malaria, Ilmuwan Melindungi Hewan Ternak Warga Terlebih Dahulu


     Dilansir dari @NYTHealth, para ilmuwan mencoba mencegah terjadinya peredaran malaria dengan melindungi ternak mereka.  Hal ini terinspirasi dari temuan-temuan ilmuwan lainnya, seperti mencegah penyebaran nyamuk malaria melalui memberikan bahan aktif obat Ivermectin. Cara kerja bahan aktif ini membuat nyamuk meminum darah peminum obat, yang dimana dalam darah tersebut sudah terkandung bahan aktif obat tersebut, sehingga nyamuk tidak dapat bereproduksi. Penemu dari obat Ivermectin ini meraih penghargaan bergengsi Nobel dalam bidang fisiologi.

     Merubah manusia menjadi bom bagi para nyamuk, menjadi hal yang diyakini oleh para ilmuwan sebagai hal yang positif. Dengan membuat nyamuk tidak dapat bereproduksi, maka penyakit-penyakit menular seperti demam berdarah, malaria, penyakit kuning, dan chikungunya dapat dicegah.

     Para warga yang cacingan di Adiopodoume, Pantai Gading, yang dimana Ivermectin dikatakan dapat melenyapkan cacing juga, hanya mendapatkan satu atau dua obat itu setahun. Para peneliti kurang begitu yakin apakah aman atau tidak apabila menaikan kadar Ivermectin cukup tinggi dalam darah dapat menyapu bersih generasi nyamuk yang akan datang pada musim menggigit, atau musim dimana para nyamuk meningkat pesat jumlahnya dan mulai menggigit-gigit ternak maupun manusia. Karena menurut mereka, para ilmuwan, metode tersebut dapat memberikan pencegahan tersebarnya penyakit-penyakit yang disebabkan oleh nyamuk sebagai perantaranya selama berbulan-bulan.

Untuk selengkapnya silahkan buka link dibawah ini

Tweet Source:

To prevent malaria in humans, scientists try protecting pigs and other livestock first http://goo.gl/MUEyjY

Unknown Web Developer

Yudha Eri Saputra is a pharmacist that have affinity to inspire health innovation through cross information sharing

Terbaru, Kombinasi Obat dan Device untuk Memecah Penggumpalan Darah Sedang dalam Tahap Pengembangan


Dilansir dari @Harvard, kemampuan untuk memecah gumpalan darah secara cepat, sedang dalam tahap pengembangan. Metode kombinasi obat dengan device ini membuka jalan baru untuk mengatasi penyakit stroke.

Pada jurnal yang akan diterbitkan pada Desember ini, dijelaskan bahwa metode baru ini secara cepat dapat memecah gumpalan darah yang menghambat laju peredaran darah di saluran darah dalam otak.

Tim riset yang diketuai oleh direktur Wyss Institute Donald Ingber dan professor kedokteran radiology University of Massachusetts Ajay Wakhloo mengatakan bahwa dengan mengkombinasikan nanoterapi peletus tumpukan darah yang dapat diinjeksi untuk mengatasi blokade darah, dan sebuah device intra-arteri yang memulihkan aliran darah kembali menuju saluran darah yang sebelumnya terhalangi oleh gumpalan darah, laju peredaran darah dalam otak akan menjadi lancar, dan penyakit stroke dapat dicegah serta diatasi secara cepat.

Untuk selengkapnya, silahkan klik link dibawah ini

Tweet Source:

New, highly effective drug-device combination for treating blood clots is being developed https://t.co/CSffCI8UHD https://t.co/C8bJaA3NP9

Unknown Web Developer

Yudha Eri Saputra is a pharmacist that have affinity to inspire health innovation through cross information sharing