Dilansir dari @NYTHealth, para ilmuwan mencoba mencegah terjadinya peredaran malaria dengan melindungi ternak mereka. Hal ini terinspirasi dari temuan-temuan ilmuwan lainnya, seperti mencegah penyebaran nyamuk malaria melalui memberikan bahan aktif obat Ivermectin. Cara kerja bahan aktif ini membuat nyamuk meminum darah peminum obat, yang dimana dalam darah tersebut sudah terkandung bahan aktif obat tersebut, sehingga nyamuk tidak dapat bereproduksi. Penemu dari obat Ivermectin ini meraih penghargaan bergengsi Nobel dalam bidang fisiologi.
Merubah manusia menjadi bom bagi para nyamuk, menjadi hal yang diyakini oleh para ilmuwan sebagai hal yang positif. Dengan membuat nyamuk tidak dapat bereproduksi, maka penyakit-penyakit menular seperti demam berdarah, malaria, penyakit kuning, dan chikungunya dapat dicegah.
Para warga yang cacingan di Adiopodoume, Pantai Gading, yang dimana Ivermectin dikatakan dapat melenyapkan cacing juga, hanya mendapatkan satu atau dua obat itu setahun. Para peneliti kurang begitu yakin apakah aman atau tidak apabila menaikan kadar Ivermectin cukup tinggi dalam darah dapat menyapu bersih generasi nyamuk yang akan datang pada musim menggigit, atau musim dimana para nyamuk meningkat pesat jumlahnya dan mulai menggigit-gigit ternak maupun manusia. Karena menurut mereka, para ilmuwan, metode tersebut dapat memberikan pencegahan tersebarnya penyakit-penyakit yang disebabkan oleh nyamuk sebagai perantaranya selama berbulan-bulan.
Untuk selengkapnya silahkan buka link dibawah ini
Tweet Source:
To prevent malaria in humans, scientists try protecting pigs and other livestock first http://goo.gl/MUEyjY
Tidak ada komentar:
Posting Komentar